Month: September 2025

Gethuk Eco, Oleh-Oleh Khas Magelang yang Legendaris

Setiap kota di Indonesia memiliki oleh-oleh khas yang tak hanya menjadi camilan, tetapi juga menjadi identitas budaya daerahnya. Magelang, sebuah kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan Candi Borobudur, juga memiliki kuliner tradisional yang mendunia: Gethuk Eco. Nama “Eco” diambil dari bahasa Jawa yang berarti “enak”, dan memang rasa manis gurih dari gethuk ini membuat siapa pun yang mencicipinya setuju bahwa julukan tersebut tepat adanya.

Baca Juga : Oleh-Oleh Jaman Dulu, Masih Dicari Hingga Kini

Gethuk Eco bukan sekadar jajanan pasar biasa, melainkan sebuah warisan kuliner yang sudah bertahan puluhan tahun. Produk ini menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan yang datang ke Magelang, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang sejarah, cara pembuatan, keunikan, serta daya tarik Gethuk Eco yang menjadikannya ikon kuliner Magelang.


Sejarah Singkat Gethuk Eco

Gethuk pada dasarnya adalah olahan tradisional berbahan dasar singkong yang sudah lama dikenal masyarakat Jawa. Namun, di Magelang, gethuk mendapat sentuhan berbeda hingga tercipta produk bernama Gethuk Eco.

Awalnya, gethuk merupakan makanan rakyat pada masa sulit, terutama saat beras langka. Singkong yang mudah ditanam dijadikan bahan pokok pengganti nasi. Dari situlah, gethuk lahir sebagai makanan sehari-hari masyarakat Jawa. Seiring waktu, gethuk tidak hanya dimakan sebagai pengganjal perut, tetapi diolah dengan cita rasa khas dan dikemas lebih menarik sehingga bisa dijadikan oleh-oleh.

Gethuk Eco mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an, ketika seorang pengusaha lokal Magelang berhasil mempopulerkannya dengan merek “Eco”. Strategi pemasaran sederhana namun efektif, ditambah kualitas rasa yang konsisten, membuat produk ini bertahan hingga sekarang. Kini, Gethuk Eco sudah menjadi ikon kuliner Magelang yang sejajar dengan produk-produk legendaris lain di Indonesia.


Proses Pembuatan Gethuk Eco

Rahasia kelezatan Gethuk Eco terletak pada bahan baku pilihan dan cara pengolahannya yang masih mempertahankan nilai tradisional.

  1. Bahan Baku Utama

    • Singkong pilihan: Dipilih yang segar, empuk, dan tidak pahit.

    • Gula: Bisa gula pasir atau gula kelapa, sesuai varian rasa.

    • Kelapa parut: Sebagai taburan pelengkap.

    • Garam secukupnya: Untuk menyeimbangkan rasa.

  2. Tahapan Pembuatan

    • Singkong dikupas, dicuci bersih, lalu dikukus hingga empuk.

    • Setelah matang, singkong dihaluskan hingga teksturnya lembut.

    • Campuran gula dan sedikit garam dimasukkan agar terasa manis gurih.

    • Adonan dibentuk menjadi potongan kecil persegi panjang atau bulat sesuai ciri khas Gethuk Eco.

    • Disajikan dengan taburan kelapa parut segar di atasnya.

  3. Ciri Khas Gethuk Eco

    • Tekstur lembut, tidak keras dan tidak terlalu lengket.

    • Rasa manis pas, tidak berlebihan.

    • Aroma singkong segar berpadu dengan gurihnya kelapa.


Keunikan Gethuk Eco Dibanding Gethuk Lain

Di beberapa daerah, gethuk mungkin terlihat mirip. Namun, Gethuk Eco dari Magelang punya keunikan tersendiri:

  • Nama Brand yang Melegenda: Kata “Eco” membuat orang langsung teringat pada Magelang.

  • Konsistensi Rasa: Dari dulu hingga kini, cita rasa manis gurihnya tetap terjaga.

  • Kemasan yang Beradaptasi: Kini Gethuk Eco tersedia dalam kemasan modern sehingga tahan lama dan cocok sebagai oleh-oleh.

  • Varian Rasa: Selain original, ada varian coklat, keju, dan pandan yang disukai anak muda.


Gethuk Eco sebagai Oleh-Oleh Wajib dari Magelang

Magelang bukan hanya kota transit menuju Yogyakarta atau Semarang. Banyak wisatawan sengaja singgah untuk berburu kuliner khasnya. Salah satu yang paling dicari tentu Gethuk Eco.

Bagi wisatawan, membeli Gethuk Eco seperti sebuah ritual wajib. Rasanya yang khas sering dijadikan buah tangan untuk keluarga atau sahabat. Selain mudah dibawa, harganya juga cukup terjangkau. Oleh karena itu, banyak toko oleh-oleh di Magelang menjadikan produk ini sebagai andalan utama mereka.


Filosofi dan Nilai Budaya dalam Gethuk Eco

Lebih dari sekadar makanan, Gethuk Eco punya filosofi tersendiri:

  • Kesederhanaan: Singkong sebagai bahan utama mencerminkan kesahajaan hidup masyarakat Jawa.

  • Kebersamaan: Gethuk biasanya disajikan dalam porsi besar untuk dinikmati bersama keluarga.

  • Warisan Tradisi: Produk ini mengingatkan generasi muda akan pentingnya menjaga kuliner lokal di tengah gempuran makanan modern.


Lokasi dan Tempat Membeli Gethuk Eco

Bagi yang ingin berburu Gethuk Eco, berikut beberapa lokasi populer:

  1. Toko pusat oleh-oleh di Kota Magelang, terutama di sekitar Alun-Alun Magelang.

  2. Dekat Candi Borobudur, banyak pedagang yang menyediakan produk ini untuk wisatawan.

  3. Toko resmi Gethuk Eco yang sudah memiliki cabang di beberapa titik strategis kota.

Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, mulai dari Rp15.000 hingga Rp50.000 tergantung kemasan dan varian.


Tips Membeli dan Menyimpan Gethuk Eco

  • Pilih kemasan baru agar lebih awet saat dibawa pulang.

  • Simpan di kulkas jika ingin bertahan lebih lama.

  • Konsumsi dalam 2–3 hari untuk menjaga kesegaran dan cita rasa.


Gethuk Eco adalah bukti nyata bahwa kuliner tradisional bisa bertahan dan bahkan semakin populer di era modern. Dengan cita rasa manis gurih yang khas, kemasan yang menarik, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya, tak heran jika Gethuk Eco selalu menjadi oleh-oleh favorit wisatawan yang datang ke Magelang, Jawa Tengah.

Baca Juga : Sate Klathak Yogyakarta: Kuliner Legendaris dengan Rasa Autentik

Bagi Anda yang berkunjung ke Magelang, jangan lupa membawa pulang Gethuk Eco sebagai buah tangan. Selain bisa memanjakan lidah, Anda juga ikut melestarikan warisan kuliner tradisional Indonesia.

Oleh-Oleh Jaman Dulu, Masih Dicari Hingga Kini

Oleh-oleh tradisional selalu menjadi bagian penting dari perjalanan, baik untuk wisatawan maupun masyarakat lokal. Barang-barang khas jaman dulu tidak hanya memiliki nilai nostalgia, tetapi juga membawa cerita dan budaya yang khas. Hingga kini, beberapa oleh-oleh tetap dicari karena kualitas, keunikan, dan keaslian rasanya.

Kenapa Oleh-Oleh Tradisional Tetap Populer

Oleh-oleh jaman dulu sering kali dibuat dengan cara tradisional, menggunakan bahan alami dan resep turun-temurun. Kualitas rasa dan keaslian produk menjadi daya tarik utama, membuat barang-barang ini tetap diminati meski zaman modern membawa banyak alternatif baru. Selain itu, nilai sentimental dan cerita di balik setiap oleh-oleh menambah daya tariknya bagi generasi sekarang.

Baca juga: Rahasia Oleh-Oleh Khas Daerah yang Tidak Pernah Lekang Waktu

Beberapa oleh-oleh jaman dulu juga terkenal karena bentuknya yang unik dan berbeda dari produk modern. Mulai dari makanan ringan, minuman tradisional, hingga kerajinan tangan, semuanya membawa ciri khas daerah asalnya. Hal ini membuat wisatawan merasa mendapat pengalaman autentik saat membawanya pulang.

Contoh Oleh-Oleh Jaman Dulu yang Masih Dicari

  1. Makanan Ringan Tradisional – Kue kering, dodol, dan jajanan khas yang dibuat manual.

  2. Minuman Tradisional – Sirup herbal, jamu, atau minuman fermentasi lokal.

  3. Kerajinan Tangan – Anyaman, patung kecil, dan souvenir khas daerah.

  4. Pakaian atau Aksesoris Tradisional – Batik, songket, atau tenun yang tetap eksis.

  5. Barang Koleksi Khas Lokal – Mainan jadul atau peralatan rumah tangga miniatur tradisional.

Oleh-oleh jaman dulu tetap dicari karena menghadirkan pengalaman unik yang tidak bisa digantikan produk modern. Bagi wisatawan maupun masyarakat lokal, membawa pulang barang-barang ini bukan sekadar membeli, tetapi juga melestarikan budaya, menikmati kualitas autentik, dan merasakan nostalgia yang menyenangkan.

Sate Klathak Yogyakarta: Kuliner Legendaris dengan Rasa Autentik

Yogyakarta memang tidak pernah kehabisan cerita soal kuliner. Selain gudeg yang sudah mendunia, ada satu menu khas yang semakin populer beberapa tahun terakhir, yaitu sate klathak. Kuliner ini bukan sekadar sate biasa, melainkan sajian unik yang hanya bisa ditemukan di wilayah Bantul, Yogyakarta. Keistimewaan sate klathak membuat banyak wisatawan rela antre panjang demi bisa merasakan cita rasanya. Lalu, apa yang membuat sate ini begitu berbeda dari sate pada umumnya?

Baca Juga : Cheesy Nostalgia: Menikmati Tom & Jerry Cheesecake


Apa Itu Sate Klathak?

Sate klathak adalah sate kambing khas Bantul, Yogyakarta. Berbeda dengan sate kambing biasa yang ditusuk menggunakan bambu, sate klathak menggunakan ruji besi (jeruji sepeda motor) sebagai tusukan. Cara ini dipercaya membuat daging matang merata karena panas bisa menyalur sempurna.

Nama “klathak” sendiri berasal dari bunyi daging kambing saat dipanggang, yaitu “klathak-klathak”, sehingga menambah kesan unik pada kuliner ini.


Cita Rasa yang Unik

Sate klathak tidak dibumbui kacang atau kecap manis seperti sate kambing kebanyakan. Justru, bumbunya sangat sederhana: hanya garam dan sedikit ketumbar.

Meski terdengar simpel, justru inilah letak keistimewaannya. Daging kambing terasa juicy, gurih, dan tidak berbau prengus. Rahasianya ada pada kualitas daging kambing muda yang dipilih serta teknik memanggang dengan bara api menyala.

Biasanya sate klathak disajikan dengan kuah gulai hangat yang kaya rempah. Perpaduan sate gurih dan kuah gulai inilah yang membuat lidah siapa pun ketagihan.


Suasana Warung Sate Klathak

Beberapa warung sate klathak legendaris di Yogyakarta di antaranya:

  1. Sate Klathak Pak Pong – Lokasinya di Jalan Imogiri Timur, selalu ramai pengunjung hingga malam hari.

  2. Sate Klathak Pak Bari – Lebih populer sejak muncul di film AADC 2.

  3. Sate Klathak Pak Jeje – Dikenal dengan porsinya yang lebih besar.

Suasana di warung sate klathak umumnya sederhana, khas warung Jawa, dengan meja kayu panjang dan aroma bakaran sate yang menggoda. Menikmati sate klathak di malam hari bersama kuah gulai panas menambah kehangatan suasana.


Harga yang Bersahabat

Harga sate klathak cukup terjangkau, mulai dari Rp25.000 – Rp35.000 per porsi tergantung tempat. Dengan isi dua tusuk sate berukuran besar, seporsi sudah cukup mengenyangkan.

Selain sate, biasanya tersedia menu pelengkap seperti tengkleng, tongseng, dan gulai kambing yang tak kalah menggugah selera.


Pengalaman Menyantap Sate Klathak

Bagi penikmat kuliner, sate klathak memberikan pengalaman berbeda. Saat gigitan pertama, rasa gurih alami daging kambing langsung terasa, ditambah tekstur empuk tanpa aroma menyengat. Kuah gulai yang hangat menjadi pelengkap sempurna.

Tidak heran jika banyak wisatawan menyebut sate klathak sebagai kuliner wajib coba saat ke Yogyakarta.


Sate klathak bukan sekadar sate kambing, tetapi ikon kuliner khas Bantul yang menggambarkan kesederhanaan sekaligus kelezatan. Dengan bumbu minimalis, teknik panggang unik, serta penyajian khas dengan kuah gulai, sate klathak sukses memikat lidah siapa pun yang mencobanya.

Baca Juga : Review Dimsum Mentai yang Viral: Lezat dan Kekinian

Jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, jangan lewatkan kesempatan menikmati kuliner legendaris ini. Sate klathak adalah bukti bahwa kesederhanaan bisa menghadirkan cita rasa luar biasa.